Skandal Gizi Nasional di Batu Bara: Siswa Dapat Nasi Basi & Lauk Berulat, Publik Minta KPK Turun Tangan!

Nasi Basi, Lauk Berulat, Diduga Ada Permainan Anggaran

Skandal Program Gizi Nasional di Batu Bara: Nasi Basi, Lauk Berulat, Diduga Ada Permainan Anggaran

BATU BARA FAKTA24.COM– Program pemenuhan gizi siswa yang dicanangkan Presiden Prabowo melalui Badan Gizi Nasional Republik Indonesia (BGN-RI) kini diguncang skandal serius di Kabupaten Batu Bara. Alih-alih menyajikan makanan sehat, ratusan siswa justru terancam kesehatannya akibat menerima nasi basi dan lauk berulat.

Peristiwa ini terjadi di SMA Negeri 1 Air Putih, Jalan Syarifuddin No. 39, Desa Tanjung Kubah, Kecamatan Air Putih, dengan jumlah siswa mencapai 890 orang. Sejak Rabu (20/8/2025), makanan yang dikirim penyedia tercium bau busuk, basi, dan tidak layak konsumsi.

Makanan itu dipasok oleh Yayasan Merah Putih, cabang dapur masak di Jalan Barus Srg, Desa Tanjung Kubah. Menurut pihak sekolah, makanan dimasak malam hari dan dikirim pagi, namun kondisinya sudah rusak.

 “Tolonglah, jangan makanan basi dan berulat diberikan lagi ke sekolah kami. Anak-anak bisa sakit,” tegas pihak sekolah.

Ironisnya, saat pihak sekolah memprotes, jawaban dari penyedia justru membuat geram publik:

 “Diterima saja makanan itu,” ujar penyedia, menurut keterangan pihak sekolah.

Dari Program Gizi Jadi Proyek Bisnis

Program gizi nasional yang semestinya menjadi solusi kesehatan anak bangsa justru diduga dijadikan ladang proyek oleh oknum penyedia. Fakta di lapangan menunjukkan indikasi:

Markup anggaran dan penggunaan bahan makanan murah.

Distribusi tidak higienis dan jauh dari standar kesehatan.

Pengawasan lemah dari BGN dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Sejak 14 Juli 2025, Yayasan Merah Putih menjadi penyalur makanan ke sekolah. Namun setelah kejadian luar biasa (KLB) pada 19 Agustus, distribusi dihentikan tanpa pertanggungjawaban jelas.

Dugaan Permainan Vendor

Sumber internal menyebut, Yayasan Merah Putih diduga dipilih secara tidak transparan. Pola permainan orang dalam dalam penunjukan vendor kian menguat, apalagi kasus serupa pernah terjadi di daerah lain.

Vendor seolah kebal hukum. Meski terbukti lalai, Yayasan Merah Putih hingga kini belum mendapat sanksi tegas.

Ancaman Nyawa Generasi Muda

Kasus ini bukan sekadar persoalan nasi basi, melainkan menyangkut nyawa dan masa depan generasi bangsa. Orang tua siswa kini resah dan mendesak aparat hukum, BPK, hingga KPK untuk turun tangan menyelidiki dugaan penyelewengan anggaran.

Tuntutan Publik

Masyarakat menegaskan empat tuntutan utama:

1. Audit forensik anggaran program gizi nasional di Batu Bara.

2. Investigasi hukum terhadap Yayasan Merah Putih dan kemungkinan keterlibatan oknum pejabat.

3. Sanksi tegas untuk vendor yang lalai.

4. Evaluasi nasional atas sistem distribusi gizi agar tidak dijadikan proyek bancakan.

Kasus ini menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat agar tidak membiarkan program gizi Presiden Prabowo tercoreng praktik korupsi berjamaah. Jika dibiarkan, generasi muda Indonesia yang menjadi korban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *